Sabtu, 09 Juni 2012

MERPATI CINTA

Penulis : Anisa Nur Hidayah




Malam ini begitu hening, yang kulihat hanyalah bintang-bintang yang bertaburan menggantung di langit. Aku sendirian duduk di rerumputan yang halus di tepi Danau dengan buliran air mata yang terus mengalir membasahi pipiku. Aku kesepian, karena aku hidup di dunia ini hanya sebatang kara dan bagiku tiada lagi tawa kebahagiaan yang ada hanyalah kesendirian dan kepenatan hidup yang selalu menemani hari-hariku ini.
“Mengapa? Mengapa aku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Kenapa semua orang yang kucintai meninggalkanku?” teriakanku sambil melempar batu-batu kecil ke Danau. Aku menangis semakin menjadi-jadi, aku rindu keluargaku yang telah lama meninggalkanku sendirian di dunia ini.
Aku tergagap karena karena satu burung merpati kecil hinggap di bahuku dan kulihat ada sepucuk surat deng kertas berwarna merah muda yang di ikatkan pada kaki kanan burung merpati itu. Aku pun memegang burung merpati itu lalu kubelai lembut sambil tersenyum manis.
“Kamu burung cantik! Mana temanmu?” tanyaku sambil tersnyum
Aku pun melepaskan ikatan surat itu pada kaki burung Merpati lalu kubuka dan membaca nya.
“Janganlah kamu terus bersedih Prinses. Masih banyak 0rang yang sayang sama kamu. Aku yakin suatu saat akan ada seorang pangeran yang akan menjemputmu dan mencintaimu dengan tulus” isi surat nya membuatku kaget. Aku mengernyitkan kening tak mengerti dan banyak pertanyaan tertumpuk di otakku. Dan tiba-tiba detak jantungku berdegup kencang padahal sebelum nya aku tidak pernah merasakan ini semua.
“Siapa pengirim surat ini ya? Tapi siapa pun dia makasih ya karena kamu udah buat aku senang” kataku sambil tersnyum paling bahagia sedunia
Burung itu pun melepaskan diri dari genggamanku ia terbang bebas ke udara. Aku pun segera berdiri lalu menoleh ke belakang dan kulihat seorang laki-laki memakai celana Jeans Jaket Serta Sepatu Putih masuk ke mobil BMW berwarna merah lalu berlalu pergi dengan mobil nya. Aku murung hatiku kesal karena tidak bisa melihat wajah laki-laki itu. Dan jantungku berdegup kencang membayangkan laki-laki tadi yang kulihat hanya dari belakang.
“Semoga ini bukan pertama dan terakhir kali nya aku melihat cowok tadi” pintaku dengan wajah memelas
Kian lama hatiku mulai tenang dan senyuman selalu terlukis di bibirku setiap hari karena setiap hari Burung Merpati kecil itu selalu datang menemuiku dan membawakan surat yang berbeda setiap hari nya. Isi surat itu selalu membuatku bahagia, walaupun aku tidak tahu siapa sebenarnya pengirim surat itu.
“Siapa sebenar nya pengirim surat cinta itu? Aku yakin dia cowok tapi kenapa aku selalu merasakan dia ada di dekatku” tanyaku sambil memandangi surat-surat yang tertata rapi di meja belajarku
Keesokan harinya seisi Kampus gempar membicarakan Mahasiswa baru yang katanya Cool, ganteng dan juga seorang penyangi. Aku hanya mengernyitkan kening tak mengerti berdiri di dekat fakultas Sastra fakultasku.
“Sinta! Kok kamu seneng banget. Ada apa si?” tanyaku penasaran kepada teman fakultasku yang berdiri di depanku
“Ya ampun Olivd masa kamu nggak seneng kan dia Artis terkenal. Aku mau banget jadi pacar nya” Jawab Sinta sambil tersenyum dan menatapku
Aku menggeleng-gelengkan tak mengerti maksud pembicaraan Sinta. Tak lama kemudian Mahasiswi-mahasiswi berlarian sambil berteriak histeris ke arahku.
“Waduhh…. Kok cewek-cewek pada nyamperin aku?” tanyaku tak mengerti
“Sumpah perfect banget” kata cewek-cewek itu dan juga Sinta serentak yang berdiri di depanku dan menatapku
“Kalian pada kenapa si?” tanyaku polos
Aku pun tersipuh malu lalu menundukkan kepalaku untuk menghindari tatapan mereka yang begitu dalam        ”Hey! Apa kabar Olive?” Ucap seorang laki-laki sambil memegang bahuku dari belakang
“Siapa si?” tanyaku kesal
Aku pun segera menoleh ke belakang. Aku tergagap karena kulihat seorang laki-laki sangat tampan melempar senyum termanisnya ke arahku. Aku terdiam dan jantuhku kembali berdegup kencang.
“Hi… Kenalin aku Reno Mahasiswa baru” sambil mengulurkan tangan nya
“Olive!” kusambut tangan nya dg tersnyum
Aku tergagap karena Burung Merpati Yang biasa menemaniku terbang ke arahku lalu ia hinggap di bahu Reno.
“Cantik! Pinter kamu sayang!” kata Reno pada Burung itu
“Reno! Kamu kenal sama burung itu?” tanyaku penasaran
“Ini Burung aku, prinses!” Kata nya lalu berlalu pergi
Aku tak menyangka Burung yang selama ini menemaniku adalah milik Reno. Aku pun berlari mengejar Reno. Dan kami saling menatap di taman belakang kampus.       “Jadi surat yang selama ini aku trima dari kamu” kataku
“Iya! Dari awal aku melihat kamu Di Danau itu aku sudah mencintai kamu. Maka nya aku kirim Merpati Cintaku buat kamu” kata Reno sambil tersnyum
“Aku juga dari awal udah cinta sama pangeran Merpati” kataku
“Jadi kamu mau trima Cinta aku!”
“Iya”
Reno pun merangkulku dan kami membelai merpati itu dengan lembut.

Cinta Yang Telah Pergi Selamanya

Penulis : Aryanti


Hari begitu cerah suasana tampak ramai di halaman sekolah.Ini adalah hari pertama ku jadi siswa baru di SMA vavorit yang selama ini aku ingin kan.
“mudah-mudahan saja hari ini akan lebih baik” bicara ku dlam hati
di saat aku berjalan sambil termenung tiba-tiba saja ada cowo menabrak ku dari belakang  ”oohh I am sorry” cowo yang menabrak ku
“o tidk apa apa” aku pun memblas perkataannya
setelah cowo itu meminta maaf aku segera meninggalkan tempat ku tadi dan menuju ke kelas ku yang baru.sesempai di kelas semua murid memperhatikan ku.Akupun hanya terdiam saja dan menuju ke tempat kursi kosong.Bel berbunyi tanda bahwa belajaran akan segera di mulai guru pun memasuki kelas kami.
“selamat pagi anak anak”sapa bu irma guru bahasa indonesia.
“selamat pagi bu”jawab siswa siswa yang ad di kelas dengan serentak.
“kebetulan sekali anak anak bahwa hari ini ada teman baru kalian.nah sekarang silakan maju untuk memperkenalkan diri kamu”ibu Irma sambil menyuruh ku
akupun maju”selamat pagi teman teman perkenalkan nma saya Fedellia Nafissya panggil saja fiya saya pindahan dari Surabaya saya pindah disini karna alasan saya ikut orng tua pindah tugas,hobby saya suka membaca,mudah mudahan saya bisa akrap sama kalian semua terimakasi”
aku yang gugup.akhirnya bu Irma menyuruhku untuk duduk.3jam pun berlalau bel berbunyi bertanda waktu istrahat telah tiba aku hanya duduk di bawah pohon bringin terdiam melamun membayangkan sesosok selaki tadi yang menabrak ku.”siapa yah nama cowo tadi.??tanya dlm hati.baru kali ini aku jatuh cinta pda pandangn pertama”aku trus melamun
tiba tiba sja cowo yang menabrak ku datng di hadpan ku.
“hei kamu kn cewe yang tadi aku tabrak..”dengn seyum manisnya
“ee..iya kamu yang tadi menabrak ku”akupun membalas senyumnya
“pekenalkan nma ku Aryo”sambil mengulurkn tangannya
akupun jga mengulurkan tangan ku”aa..kuu.. Fiya”.
Karna setiap hari aku bertemu aryo di sekolah lama kelamaan aku pun sama Aryo telah berpacaran.Aryo kakak kelas ku sedangkn aku adik kelasnya,akhirnya banyak orang yang iri pada ku karna aku bisa mendptkn cintanya Aryo yah mungkin karna Aryo ganteng,pinter,baik lagi.Aku dan aryo sangat saling mencintai dan sling menyayangi.tpi cinta ku sama Aryo tdk lama .aku di rumah hanya terdiam duduk di kursi sova sambil menunggu Aryo dtang
“hujan sederas ini Aryo belum saimpai,firasat ku kok jadi ngak enak kanya gini”bicara ku dalam hati.tiba tiba suara ketokan pintu bebunyi.Aku pun segera membukahkn pintu dan ternyata itu Aryo.
“eeh kamu,ayo masuk sayang,kamu basah pasti dingin ya .? Biar aku ambilin kamu handuk,tunggu sebentar.”aku sambil menatap wajah Aryo yang pucat dan Aryo hanya terdiam.akupun segera mengambil handuk dan tiba tiba saja suara hp ku berbunyi.Telfon dari kakaknya Aryo.akupun langsung mengankatnya
“hallo”aku
“hallo dengan Fiya .??”kakaknya Aryo sambil tergesak
“iya ini dengn saya sendiri ada apa ya kak.?”
“Fiya kamu harus dtang di rumah sakit sekarang,Aryo meninggal dunia akibat kecelakaan pas mau pergi di rumah kamu.”kakaknya Aryo sambil menangis
“apa kak.tpi Aryo ad di rumh ku kak”aku yang terheran dan mengeluarkan air mata
dan aku langsung mematikan telfon ku.Akupun menuju ke ruang tamu,pas aku sampai di ruang tamu ternyata Aryo tidk ada.tanpa kta lagi akhirnya aku menuju ke rumah sakit dengan air mata mengalir di pipi ku.sesampai di rumah sakit aku melihat Aryo terbaring dan di tutupi kain putih.Aku hanya bisa menangis
“Aryooo…Aryo bangun Aryo kamu jangn tinggalkan aku sendiri Aryoo..”aku yang terus menangis akupun perlahan menurunkan bibir ku di telinga Aryo sambil membisiknya
“Aku sayang kamu Aryo sampai kapan pun”bisik ku
lalu aku kembali menutupi kain putih yang menutupi tubuh Aryo dan mengucapkan SELAMAT TINGGAL CINTA KU.

Egoku


Penulis : Erisa Kiswardani

Aku menghela nafas dengan berat. Merasakan perihnya duri yang tertancap di hatiku. Lama aku termenung dalam kamar. Tak tau harus berbuat apalagi untuk mengobati rasa perih ini. Bibirku tertutup rapat. Mataku sayu tapi tak berani mengeluarkan air mata. Aku memang tak ingin menangis. Aku tak mau lemah. Tapi sakit, perih, sesak semakin memuncak di hatiku.
“jangan ngambek terus dong, Ris! Kamu kok jadi manja gini sih…” kata Aim dengan nada kesal.
“apa sih? Memangnya salah kalau manja?” jawabku nggak mau kalah.
“salah. Ini bukan Risa yang kukenal.”
“bilang aja kamu nggak peduli. Sana pergi! Nggak usah sok perhatian lagi sama aku.”
Kepingan cerita bersama Aim terbayang tanpa sadar. Aim memang hanya teman bagiku. Walau aku tak tau dia menganggapku sebagai apa. aku terlanjur terbiasa dengan semua perhatian yang dia berikan. Tapi entah kenapa aku tak pernah melihat semua kebaikannya. Mataku terlalu buta dengan sikap ego yang terus bersinggah di dalam diriku.
Kemudian kepingan kisahku yang lainnya terbayang secara bergantian. Kepingan bersama orang-orang yang telah menyayangiku dengan tulus tapi sedikitpun aku tak pernah melihat mereka. Melihat semua ketulusan yang harusnya kubalas dengan sepantasnya.
“kamu tau nggak? Walau aku sibuk tapi yang paling membuatku sibuk adalah memikirkanmu.” Kata kak Miftah dengan mengeluarkan jurus rayuannya.
“iyakah? Aku jadi pengen jatuh saking terharunya denger ucapan kamu, kak.” Kataku sambil nyengir kecut ketika menatap matanya.
Aku selalu menganggap semua kata-kata yang dilontarkannya hanyalah kebohongan. Itu terlalu berlebihan untuk cowok yang sudah memiliki pacar seperti kak Miftah. Aku heran kenapa dia melakukan hal bodoh yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Pikir saja, dia sudah mempunyai pacar tapi masih menginginkanku? Yang benar saja!
“aku sayang Lia, Ris. Tapi aku juga sayang kamu. Aku nggak bisa lupain kamu sampai sekarang. Aku masih nggak rela lepasin kamu.” Kata Adit dengan nada lirih.




“huh, masih sayang malah jadian sama orang lain.” Kataku dengan ketus.
“kamu yang putusin aku kan? Aku jadian sama Lia awalnya Cuma buat lupain kamu!.”
“apa? jadi mau nyalahin aku ya?”
“huft.. iya maaf.. jangan marah lagi. Mau kan kamu tetep disampingku walau bukan jadi milikku?”
Aku menatapnya dan terdiam. Si mantan yang bodohnya masih menyimpan perasaan untukku. Walau aku pun masih menyayanginya. Otakku berputar dan muncul sebuah rencana untuk membalas semua kejahatan yang telah dia perbuat padaku. Aku tersenyum manis kepadanya. Senyum palsu untuk membuatnya menangis.
“Ris, beneran kamu nggak mau balikan sama Adit? Aku relain dia kalau kamu memang masih sayang.” Lia tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tak ingin kudengar.
“Aku memang masih sayang. Tapi aku nggak mau balikan.”
“kenapa?”
“aku nggak suka cowok gampangan.” Kataku ketus.
Semuanya teringat jelas dalam ingatnku. Dan itu membuatku sangat bersalah. Kesepian yang memuncak karena mereka mulai meninggalkanku. Dan kalut yang semakin menyertaiku. Mereka banyak berbuat baik padaku walau cacat sikap kadang muncul tapi apa yang telah aku lakukan untuk mereka? Aku merenung dan kembali berpikir. Air mata mulai menyapaku. Nggak! Nggak boleh lemah. Nggak boleh nangis! Teriakku dalam hati.
Aku membuka ponsel yang beberapa hari kubiarkan tergeletak di meja rias dengan keadaan non aktif. Dering SMS terus berbunyi ketika aku baru menyakan ponselku. Puluhan pesan masuk dalam kotak masukku. Perlahan aku membacanya satu per satu. Rasanya aku tak percaya. Mereka yang mengirim pesan padaku. Mereka yang kupikir jenuh kepadaku atas sikap ego yang selama ini hinggap dalam diriku. Dan yang membuat tak percaya lagi, mereka mengkhawatirkanku! Aku yang beberapa hari ini tak melihat dunia. Hatiku terenyuh.
Senyumku merekah saking senangnya. Semangatku perlahan bangkit. Otakku mulai rileks merangkai kata-kata maaf untuk mereka. Mengenyahkan egoku. Menghapus kesendirianku. Mengobati rasa bersalahku. Memperbaiki semuanya. Tak ada ego lagi. Tak ada dendam lagi. Janjiku dalam hati. Ya, kurasa aku tau apa yang akan aku lakukan setelah ini.

Pelangi Cinta


Penulis : Nur Aminah

Pagi yang begitu dingin membuatku enggan membuka mata untuk beranjak dari tempat tidurku dan selimut tebal yang membuatku begitu hangat. Sang Matahari tidak menyapaku pagi ini, sebagai gantinya gumpalan awan gelap menyelimuti langit di pagi yang indah ini. Suatu pertanda kalau hari ini akan datang hujan sepanjang hari. Hufftt… Hal yang paling aku benci karena hujan membuat langit menjadi mendung sehingga aku tidak dapat melihat indahnya sinar mentari di pagi hari. “ Nana..!!!! Ayo cepat bangun sayang… sudah siang, emangnya kamu gak berangkat sekolah hari ini???.” Terdengar teriakan mama samar-samar dari arah dapur.BRAKK, tiba-tiba pintu kamarku terbuka lebar.” Kakak cepet bangun…!!!! mama udah marah-marah, sekarang udah jam 06.30 ntar kakak telat lho….”teriak adikku mencoba membangunkanku sambil menarik-narik selimutku. “Kakakkkk….. Cepetan bangun ntar di marahin mama lho…” teriak Dandy lagi.“ Iya.. Iya… Emangnya Jam berapa sih ?? Kok udah pada teriak-teriak, ini kan masih jam 05.30 adikku sayang.”Kataku sambil melirik ke arah jam dinding di kamarku, aku heran melihat Dandy memberikan tangannya kepadaku.” Lihat jam tangan Dandy baik-baik… Sekarang udah jam 06.30 jam di kamar kakak mati. Jadi kakak siap-siap aja buat telat ke sekolah.” Oh My God, Aku kaget melihat jam milik adikku itu. Dengan cepat aku langsung meraih handukku dan terus melaju ke kamar mandi. Semua orang di rumah itu hanya geleng-geleng kepala menyaksikan aksiku yang sedang terburu-buru.
Setelah berlari-larian mengejar bus dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya yang kebanyak pelajar sepertiku akhirnya sampai juga di sekolah. Sambil terus berdoa dalam hati semoga hujan tidak turun agar aku tidak sial hari ini. Tanpa aku sadari pak Satpam yang sedang berdiri di Gerbang Sekolah menegurku. “ Neng Nana telat lagi ya..??” Sapanya sambil setengah menahan tawa melihatku terengah-engah. Sudah tau nanya. Batinku kesal. ”Ya Pak”.Jawabku singkat sambil tersenyum simpul. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju ke kelas. Di tengah perjalan tiba-tiba aku bertemu dengan Pak Cipto. Guru BK yang super killer di sekolah ini. Banyak murid yang membencinya, murid satu sekolah ini rata-rata membencinya dan tak mau berurusan dengan dia termasuk aku. Rasanya ingin sekali menghilang dari pada mesti berhadapan dengan pak Cipto. Tapi, kenyataannya sudah terlambat karena Pak Cipto kelihatannya memang sengaja menungguku.” Nana… Kamu cepat ikut ke ruangan Bapak…” Kata Pak Cipto dengan wajah kaku. Hatiku berdebar begitu kencang, keringat dingin pun mengalir. Apa yang akan aku hadapi nanti di ruang BK. “ Baik pak .“jawabku pasrah sambil mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kelas aku heran melihat Caca teman sebangkuku duduk dengan Rio. Sedangkan semua bangku telah terisi dan hanya satu bangku yang tersisa di sebelah Indra cowok super pendiam dan cuek. Meskipun dia tampan tapi melihat sikapnya yang begitu pendiam dan cuek membuatku merasa tidak nyaman jika berada di dekatnya. Sambil terus melotot ke arah Caca yang sedang asyik mengobrol dengan Rio aku berjalan menuju bangku yang kosong itu. Tambah lagi kesialanku hari ini. Gerutuku dalam hati. “ Na, sorry hari ini kamu duduk bareng Indra ya. Soalnya aku udah dari tadi duduk sama Rio aku kira kamu gak masuk hari ini, Gak apa kan ??. ” Tanya Caca setelah melihatku. Sebenarnya aku ingin marah padanya tapi setelah aku pikir mungkin ini emang salahku. “ Ya udah terserah kamu.” Jawabku ketus. “ Makasih ya, Nana sayang.” Ucapnya seraya mencubit kedua pipiku sehingga aku pun meringis menahan sakit. “ Tega banget sih, sakit tau Ca.” Caca hanya tertawa melihat pipiku yang mulai memerah.
Siang menjelang namun matahari tak juga menampakan diri, sebaliknya butiran-butiran bening terus berjatuhan dari langit. Hujan memang pertanda buruk bagiku itulah sebabnya aku benci hujan. Aku menerima hukuman harus membersihkan ruang BK setelah pulang sekolah. Dengan terpaksa aku harus membersihkan ruang BK sendirian karena Caca ada les Fisika setelah pulang sekolah. Ruang BK memang tidak begitu luas, tapi karena jarang di bersihkan butuh usaha ekstra untuk membersihkannya. Setelah selesai membersihkan semuanya aku bergegas untuk segera pulang karena hujan sudah lumayan reda hanya tinggal gerimis kecil.
Suasana sekolah setelah pulang sekolah begitu sepi dan sedikit mencekam, sehingga aku menuju ke luar gerbang sekolah dengan berlari. Di gerbang sekolah terlihat ada seseorang yang sedang duduk di atas motor. Setelah aku perhatikan ternyata cowok itu Indra.Mungkin dia sedang menunggu seseorang. Aku menjawab pertanyaanku sendiri.
“ Ngapain masih disini Ndra ?.” Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya.
“ Ya, Nungguin Kamu lah. Aku udah satu jam lebih nungguin kamu disini.”
“ Emangnya ada perlu apa sama aku?.” Tanyaku kaget sekaligus penasaran.
“ Kita kan ada tugas makalah dan mesti di kumpulin seminggu lagi. Jadi, kita mesti cari materinya mulai dari sekarang. Mau gak ? Kalau gak mau aku bisa cari sendiri.” Jelasnya dengan nada ketus.
“ O iya.. Aku lupa. Tapi cepet banget sih mau cari materinya sekarang. Lagian Bu Suci juga baru ngasih tugasnya tadi pagi. Gimana Kalau besok aja? Hari ini kan hujan Ndra.” Jawabku mencari alasan untuk menolak ajakannya.
“ Ya udah kalau gak mau, aku bisa cari materinya sendiri.”Dari suaranya terlihat sekali kalau di kesal denganku.
“ Yaudah deh, aku ikut. Tapi hujan nih.” Aku terpaksa menyetujui ajakannya.
“ Terus ???.”Jawabnya cuek.
“ Ya masak mau ujan-ujanan sih.” Aku mulai kesal dengan sifat cueknya.
“ Ini pake jaket aku biar kamu gak kehujanan.” Katanya sambil memberikan jaketnya kapadaku.
“ Terus kamu gimana ?.” Tanyaku merasa tidak enak.




“Udah, gampang. Ayo..” Dia pun menyalakan motornya dan aku pun segera memboceng.Ternyata dia baik juga. Batinku dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Sepanjang jalan tak ada satu kata yang terucap. Kami hanya diam dan hanyut di tengah hujan yang semakin deras. Akhirnya, Indra memutuskan untuk berteduh di sebuah rumah makan. Kebetulan sekali karena perutku sudah begitu keroncongan. Rumah makan itu begitu unik karena di kelilingi oleh hamparan sawah. Suasananya pun begitu nyaman dan tidak terlalu ramai. Heran kenapa Indra bisa menemukan tempat sebagus ini. Kami duduk di lesehan karena dari situ bisa melihat pemandangan yang begitu indah.
“Kamu pasti belum makan siang kan ?.” Tanya Indra. Aku heran kenapa dia bisa tahu. Apa dia mendengar perutku keroncongan ya.Aduh, jadi malu nih.
“Kita makan dulu sekalian nunggu hujannya reda, habis itu baru kita cari materi buat makalah.” Jelasnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan darinya itu. Kemudian dia mulai memesan makan dan aku pun tak mau ketinggalan. Tak berapa lama setelah kami memesan, akhirnya hidangan pun sudah siap. Tanpa basa-basi aku lansung menyantap nasi dan ayam goreng yang tadi aku pesan itu dengan lahap. Tanpa aku sadari Indra melirik ke arahku dan tersenyum sendiri. Aku gak pernah membayangkan bakalan makan berdua bersama dia. Meskipun kita satu kelas tapi kita berdua tidak pernah bicara ataupun menyapa satu sama lain. Aku yang cenderung cerewet dan dia yang hanya berbicara jika itu perlu. Sebenarnya meskipun aku tidak pernah berbicara dengannya, diam-diam aku selalu memperhatikannya. Ketika dia menuliskan rumus-rumus di papan tulis untuk setiap jawaban dari pertanyaan Pak Yuli atau ketika dia sedang mengajari seorang teman yang belum paham dengan pelajaran tertentu. Pantas jika dia selalu mendapatkan juara kelas.
“ Makannya biasa aja kali.. Gak usah buru-buru gitu.” Dia menegurku. Aku begitu kaget sehingga aku pun tersedak dan batuk-batuk. Dia pun segera menyodorkan air minum kepadaku.
“ Makanya kalau di bilangin itu jangan ngeyel.” Dia menertawakanku.Hufft.. Menyebalkan.Aku begitu malu untuk menatapnya.
“ Siapa suruh kamu ngagetin aku. Aku kan lagi konsentrasi makan.” Kataku kesal.
“ Ya deh maaph… ” Kali ini dia tersenyum. Dia terlihat begitu tampan sewaktu tersenyum.
“ Habis ini kita kemana ?.” Tanyaku setelah selesai makan. Tampaknya hujan juga sudah mulai reda.
Indra hanya diam. Aku hampir kesal karena merasa di cuekin lagi olehnya.
“ Coba kamu lihat kearah kanan kamu.”Dia menyuruhku dan aku pun menoleh dan mencari-cari apa yang di maksudkan Indra itu. Sampai aku melihat pemandangan yang luar biasa yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sebuah pelangi melingkar di padang sawah, menambah keindahan ciptaan sang kuasa itu.
“ Ndra bagus banget…” Ku ungkapkan kekagumanku tapi Indra lagi-lagi malah sibuk mengambil sesuatu dalam tasnya. Aku pun tak menghiraukannya dan kembali melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ketika aku menoleh ke arah Indra ternyata dia sudah siap mengambil foto dengan kameranya. Sejak kapan anak itu suka sama fotografi. Tanyaku pada diri sendiri.
“ Cepetan… berdiri..!!!!” Suruhnya kepadaku. Akupun berdiri kemudian dan dengan cepat dia mengambil fotoku. Aku di suruh bergaya semauku dan aku pun mengikutinya. Gak nyangka ternyata ada sisi lain yang aku tidak tau tentangnya. Sisi lain yang begitu menyenangkan dan nyaman. Hal itu membuatku semakin kagum dan menyukainya.
“ Selalu ada sesuatu yang indah di balik hujan. Makanya jangan jadikan hujan sebagai pertanda buruk atau kesialan.” Aku kaget kenapa indra bisa tahu. Tapi, perkataannya menyadarkanku. Setelah melihat semua keindahan hari ini mungkin aku akan mulai menyukai hujan dan akan selalu menantikannya agar aku bisa melihat kembali pelangi setelah hujan reda.
“ Kenapa kamu bisa tahu kalau aku benci hujan ?.” Tanyaku penasaran. Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Terasa getaran-getaran halus dalam hatiku melihat senyumannya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke perpustakan kota untuk mencari materi makalah. Dari semua kejadian yang aku alami, aku mendapat ide membuat makalah bertema Hujan dan ternyata Indra tidak keberatan dengan usulku

Selasa, 22 Mei 2012

Btapa Aku Mencintainya


Penulis : Evy Dewi Utami

Pertemuanku dengan Bagas sore ini mengungkit lagi kenangan lama yang sulit untuk dilupakan. Semua berawal dari masa SMA dulu,
Anak-anak sekalian, hari ini kita kedatangan murid baru dari Jakarta, Bagas namanya.
Bagas nama yang asing di telingaku karena nama itu seperti nama anak-anak kota pada umumnya, begitu juga dengan penampilannya.
Satu hal yang diluar perkiraanku, Bagas sangat rendah hati, tidak pernah sedikitpun kesombongan terpancar dari perilakunya.
Nama kamu Nirmala kan? Begitu dia mengawali sapaannya padaku.
Iya namaku Nirmala, ada apa? Jawabanku seadanya……
Aku dengar dari teman-teman, kamu adalah yang terpintar di kelas kita…….
Mereka terlalu melebih-lebihkan…..aku biasa aza….anak kampung yang ingin maju…… kamu perlu apa?
Ternyata Bagas ingin sekali menjadi bagian dari kelompok belajar yang telah kami bangun sejak kami sama-sama masuk dalam ruangan ini di semester pertama.
Kita Tanya teman-teman yang lain ya….kalau mereka setuju…..kamu dapat bergabung, Ternyata teman-teman telah setuju semuanya. Jadilah kami satu tim dalam kelompok belajar.
Hari berganti hari….minggu berganti minggu…..bulan berganti bulan……. Kedekatan kami tidak hanya sekedar teman dalam satu kelompok belajar.
Semakin hari Bagas semakin memperhatikan aku, mulai dari menjemput dan mengantar ked an dari sekolah…..kebetulan dia selalu diantar dengan sopirnya.
Entah kenapa…..aku juga enggan menanyakan seperti apa keluarganya….karena hampir tidak pernah kutemui keluarganya secara utuh…..tiap ada acara yang hadir hanya ibunya…atau hanya pamannya.
Begitulah……semua berjalan dengan apa adanya….seperti air mengalir……tanpa tujuan…tanpa maksud apa-apa.
Kebetulan kelas XI kami sekelas kembali, melalui hasil pemilihan dari ranking kami masing-masing. Hal yang sangat menyenangkan dapat berkumpul kembali dengan teman-teman satu tim kelompok belajar.
Kedekaatan ini menjadi sangat janggal, karena semua menjadi berubah tidak tahu apa yang terasa.
Kehilangan sehari saja dari kebersamaan aku dengan Bagas, membuat hati ini gundah gulana. Aku (Nirmala) gadis kampung yang semula ceria menjadi seorang gadis yang tidak punya semangat jika Bagas tidak ada.
Suatu hal yang tidak bias dimengerti dan tidak bisa dipahami dan lebih rumit dari rumus matematika yang terumit sekalipun.
Akhirnya kuputuskan untuk curhat dengan teman perempuanku, Dita namanya…..
Dita…aku mau Tanya……
Tanya apa Nir…..kelihatannya kamu begitu aneh hari ini?
Pernah tidak kamu merasa hidup ini lebih indah dengan adanya seseorang atau bersedih jika seseorang itu tidak ada?
Dengan tanpa diduga……Dita tertawa terbahak-bahak…….dan membiarkan aku terbengong tak mengerti melihat tawanya.
Nirmala….Nirmala…..itu namanya kamu jatuh cinta……sama siapa Nir? Aku tidak pernah melihat kamu punya sikap yang berbeda terhadap semua teman-teman kita.
Dengan tak kalah berkecamuknya hati ini…..aku hanya bisa terpana…..aku yang anak kampung ini bisa jatuh cinta? Dengan Bagas yang anak kota itu? Ah tidak mungkin, bisa saja Dita salah dan hanya mempermainkan aku.
Tepat di hari kenaikan kelas XII, diumumkan bahwa aku ternyata tidak sekelas lagi dengan teman-teman belajarku, begitu juga dengan Bagas, kita dipisah-pisah karena harus ada pemerataan dalam pembagian murid-murid yang pintar dengan yang biasa saja.
Nir….Nir…..aku dengar Bagas memanggilku………, Ada apa Gas? Nanti sore kamu ada waktu pergi denganku? Jam 5 aku jemput dirumahmu ya……..
Dengan perasaan yang tidak menentu……aku tunggu kedatangan Bagas…….sesuai janjinya dia datang tepat waktu…….setelah pamit dengan kedua orang tua ku, kamipun pergi ke warung yang biasa tim kami bercengkrama.
Nir…..mau kan kamu jadi pacar aku????seperti disambar petir di siang bolong……aku tidak bisa berkata-kata apa-apa…..antara bingung dan gembira…..inikah rasa yang selama ini kurasakan?




Nir…..mau kan? Tanpa mengeluarkan sepatah katapun….aku menganggukkan kepala….
Sejak saat itu hari-hari kulalui dengan pernuh kebahagiaan, kami saling melengkapi satu sama lain, selalu berbagi susah dan senang, tidak pernah ada hal yang membuat kami bersedih.
Hari berganti hari…..waktu berganti waktu……tibalah kami di penghujung sekolah kami, kami harus mennetukan kemana kami akan melanjutkan cita-cita kami. Aku memutuskan untuk ke Yogyakarta begitu juga dengan Bagas. Kebahagiaan tidak terkira karena ternyata kami bisa masuk ke Universitas Negeri ternama bersama-sama dengan jurusan yang sama pula….ekonomi.
Nir….Nir…..tunggu Nir…..begitu Bagas mengejarku, ada yang ingin aku sampaikan, aku akan kembali ke Jakarta, karena orang tuaku memanggilku pulang. Ada apa? Kenapa begitu tiba-tiba? Bagas tidak bisa memberikan jawaban, hanya wajah murungnya yang kulihat.
Seminggu kemudian Bagas kembali dengan berita yang tidak pernah sekalipun aku harapkan, Maafkan aku Nir…..aku sudah bertunangan dengan perempuan piihan orang tuaku.
Semua itu seperti kebohongan yang nyata dalam hidupku….
Anehnya….tidak ada hal yang perlu aku sesali…semua sudah menjadi takdir buatku dan buatnya. Sudahlah Bagas………..tidak apa2……..semua sudah terjadi……….tidak ada lagi yang harus disesali……mungkin kita memang tidak berjodoh…..
Tidak ada tangis, tidak ada air mata, yang ada hanyalah rasa sakit yang begitu mendera dalam hati.
Ternyata…..seorang Nirmala tidak setegar yang tampak di luar…….aku benar-benar kehilangan dirinya……..
Setelah Bagas pergi…….baru kusadari betapa aku sangat menrindukan hari-hari bersamanya………betapa aku tidak bisa berbahagia di tengah-tengah keramaian ……..semua menjadi sunyi………..meskipun beberapa kali Bagas berusaha menghubungiku dan menyatakan bahwa aku lah cinta dalam hidupnya.
Beberapa tahun berganti …………cinta ini ku tanam dalam diri………hidupku harus terus berjalan ada atau tidak ada Bagas dalam hidupku. Lambat tapi pasti aku dapat melupakan Bagas.…..meski tidak dapat dipungkiri setelah Bagas pergi baru kusadari betapa aku sangat mencintainya.